Panggil saja namaku Wati (bukan nama sebanarnya), usiaku 37 tahun berasal dari sebuah Dusun kecil di daerah Kopang Lombok Tengah. Aku seorang ibu rumah tangga dengan dua orang anak yang aku asuh sendiri. Aku hidup serba kekurangan aku mencari nafkah dengan bekerja serabutan kadang sebagai buruh pasar atau buruh kerja di sawah. Melihat kondisi ekonomi yang serba kekurangan, akhirnya aku memutuskan untuk menerima ajakan seorang calo yang berinisial SM yang beralamat di Mujur Lombo Tengah. Aku di bawa ke sebuah PT. NB, namun ketika di penampungan Jakarta aku di pindah lagi ke PT KM, hampir 2 bulan lamanya aku berada di penampungan PT tersebut sebelum akhirnya di berangkatkan ke Saudi Arabia.
Sampai disana, nasib berkata lain, bukan keberuntungan yang ku dapat namun dari mulai aku diterima oleh majikannku aku selalu mendapat kekerasan darinya. Nama majikannku Abdul Azis AA ia memiliki seorang istri dan dan 7 orang anak, perlakuan istri dan seorang anaknya yang berinisial Frd sangat-sangatlah sadis tiap hari aku aku di perlakukan ibaratnya bukan sebagai manusia, aku selalu makan dari sisa makanan mereka tidak itu saja aku tanpa alasan yang jelas istri majikan selalu menamparku, memukulku bahkan aku pernah di siram dengan air panas hingga sebagian tubuhku ada yang terkelupas.
Pengalaman pahit yang aku alami, suatu hari tepatnya hari jum’at majikanku bersama istri dan anaknya pergi untu refresing ke suatu tempat wisata ( Villa ), ketika rombongan tiba di daerah tersebut justru anak majikan (Frd ) pulang kembali ke rumah, aku sangat terkejut tiba-tiba ia sudah memelukku dari belakang, aku sempat untk melakukan perlawanan namun aku tak berdaya lelaki setengah baya tersebut memuaskan nafsu bejatnya , aku di perkosa hingga tak sadarkan diri. Keesokan hari aku sangat sok aku selalui di hantui rasa takut hinnga akhirnya aku memberanikan diri untuk keluar dari rumah tersebut dan melapor ke Maktab, sesampainya aku di maktab aku diterima dengan baik, hingga aku mengadukan semua kejadian yang menimpaku dan minta di pulangkan ke Indonesia, lagi-lagi nasib berkata lain justru pihak Maktab menghubungi majikanku hingga akhirnya aku bertemu lagi dengan majikannku.
Majikannku memang keparat ketika pertemuan di Maktab tersebut ia berpura-pura minta maaf dan mohon agar aku kembali kerumahnya, ia berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatannya. Namun ketika sesampainya di rumah semua jadi berubah, majikannku tidak percaya jika anaknya telah memperkosaku dan sangat marah karena aku telah berani untuk melapor ke Maktab. Akhirnya aku di sekap di sebuah kamar lantai empat, selama 8 hari aku tidak di berikan makan, untuk menutupi rasa laparku aku hanya bisa membasahi tubuhku dengan air yang ada di kamar mandi, sejak kejadian tersebut aku tidak sadarkan diri, entah apakah aku hidup atau mati, beberapa hari kemudian aku sadarkan diri dan baru ingat ketika majikanku mengantar aku ke Bandara untuk pulang ke tanah air.
Sejak kepulanganku ke daerah asal kondisiku semakin parah aku sempat di rawat di puskesmas selama 2 hari, seluruh orang kampung tahu kalau aku pulang dalam kondisi tragis, Aku merasa sedih karena kepulanganku justru membawa beban bagi anak-anaku bukannya uang yang aku bawa buat mereka namun tragedi yang hingga saat ini membuatku mengalami depresi yang sangat berat.


