Mataram, 27 November 2010, bertempat di Mataram Mall, LBH APIK NTB menyelenggarakan kegiatan sebagai rangkaian Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan Se-Dunia dengan tema :”Melalui Kearifan Budaya Tidak Ada Lagi Kekerasan Terhadap Perempuan”. Diana Febriana, SE yang bertindak selaku ketua panitia dalam sambutannya mengungkapkan : tidak dapa dipungkiri, bahwa kekerasan terhadap perempuan masih terjadi di NTB, jika kita melihat data yang ada di LBH APIK NTB dalam 4 tahun terakhir. Tahun 2005 ada 567 kasus, 2006 ada 580 kasus, 2007 ada 776 kasus, tahun 2008 ada 1,263 kasus dan pada tahun 2009 mengalami penurunan yaitu ada 751 kasus.

Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya kekerasan terhadap perempuan, antara lain penafsiran ajaran agama yang keliru, penerapan hukum yang salah dan tidak kalah pentingnya adalah faktor budaya. Adanya pembagian peran yang tidak seimbang antara suami dan isteri, paradigma bahwa laki-laki sebagai pelindung perempuan menimbulkan kepercayaan bahwa kekerasan terhadap isteri merupakan bagian dari rasan cinta kasih suami terhadap isteri sehingga menjadikan langgengnya kekerasan tersebut.

Laki-laki sebagai penerus keluarga dan laki-laki adalah pencari nafkah utama mendorong perempuan atau isteri untuk bergantung secara ekonomi kepada suami. Hal ini secara langsung membuat suami berkuasa penuh atas isterinya, sehingga karena dianggap sebagai obyek maka diperlakukan apapun sah-sah saja. Berbagai budaya diatas diturunkan menjadi sebuah peraturan atau awiq-awiq yang tentu sangat merugikan perempuan, dan selalu mengatasnamakan budaya.imbuhnya.

Tujuan Kampanye 16 Hari anti kekerasan terhadap perempuan kali ini adalah:

  • untuk mensosialisasikan kepada masyarakat tentang adanya kekerasan terhadap perempuan yang harus dihapuskan;
  • melalui budaya, secara bersama kita bisa menghapus kekerasan terhadap perempuan;
  • terjalin kerjasama antar tokoh agama dan tokoh adat dalam upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan;

Gubernur NTB dalam sambutannya yang dibacakan oleh Ibu Hj. Ratningdiah Kepala BPP & KB Provinsi NTB menyatakan bahwa acara ini sangat penting untuk mengkampanyekan anti kekerasan terhadap perempuan, untuk itu pemerintah sangat mendukung upaya-upaya terutama yang selama ini sudah dilakukan oleh LBH APIK NTB. LBH APIK NTB selama ini memang banyak membantu pemerintah dalam mengatasi permasalahan perempuan NTB, diperlukan upaya-upaya yang berkesinambungan demi kemajuan perempuan NTB dan pada gilirannya akan memajukan daerah NTB. Setelah selesai membacakan sambutan sekaligus membuka acara, ibu Ratingdiah mengajak audien yang hadir untuk menandatangani spanduk yang berisi tulisan mengajak secara bersama, untuk menghentikan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan.

Kampanye kali ini diisi dengan pemutaran film produksi LBH APIK NTB dan pagelaran seni dan budaya NTB, diantaranya : Rebana zikir yang diisi dengan syair-syair Islami yang diselingi dengan pesan-pesan anti kekerasan terhadap perempuan. Komedi Rudat yang mengisahkan cupak Gurantang dibumbui dengan pesan-pesan kampanye anti kekerasan terhadap perempuan. Kesenian Cepung, ada juga Cilokak dan hikyat. Hikayat ini sendiri menceritakan tentang siksaan yang akan didapatkan oleh suami yang tidak memberikan nafkah kepada isteri dan anaknya, tidak memperlakukan isterinya dengan baik dan menelantarkannya. Ditutup juga dengan pesan untuk memperlakukan isteri dengan baik dan menghormati perempuan, karena laki-laki yang terhormat adalah laki-laki yang memperlakukan perempuan dengan baik. Semoga tidak ada lagi kekerasan terhadap perempuan.